Ranking

Minggu, 16 September 2012

BUAT ISTRIKU…


BUAT ISTRIKU…

Adalah Engkau yang kurindu
Tuk menjadi bunga dihatiku
Menjadi peneduh kalbu
Diperjalananku

Tibalah waktu yang telah kurindu
Tuk selalu bersama denganmu
Tlah terbuka pintu itu
Akad tlah terucap sudah
 

Dinda marilah melangkah
Dinda temanilah aku di setiap detikku
Dengan doamu
Bila terpisahkan waktu
 
Tetaplah di sini di dalam hatiku

Ya Rabbi izinkanlah kami
Untuk terjaga selalu di jalan-Mu
Dinda doamu laksana pelepas dahaga
Di lelahnya jiwa

Adalah engkau  yang kurindu
Tuk selalu hadir dihidupku
Mengiringi setiap langkah saat menuju
Acuan hidup ini


Jumat, 14 September 2012

KEHILANGAN


KEHILANGAN

Sedih, perih, marah terkadang rasa ini tercampur menjadi satu disaat kita kehilangan sesuatu.Sesuatu  yang sangat berharga dalam kehidupan kita, sesuatu yang berharga bagi diri kita. Boleh jadi sesuatu itu tidak dimiliki oleh orang lain ataupun jika orang lain memilki akan tetapi cara mendapatkannya yang berbeda.Suatu hari ketika ada acara kemah bersama terjadi kejadian yang sungguh saat itu membuat hati ini sedih, perih hampir hampir marah juga. Setelah dilakukan acara pembukaan oleh panitia acara dilanjutkan dengan mengenal lingkungan, ditempat kemah itu ada lokasi yang berair sebut saja sebuah kolam yang begitu luas namun tidak terlalu dalam.Semua peserta diwajibkan untuk menyeberangi kolam tersebut dengan mata tertutup, ada satu peserta yang waktu itu tidak membawa slayer untuk menutup mata. Melihat itu langsung slayer yang kupakai ku pinjamkan untuk acara tersebut. Setelah sekian lama bermain-main di kolam tiba waktunya untuk naik ke tempat yang kering, namun apa yang terjadi  ternyata slayer yang tadi kupinjamkan hilang di tengah kolam tadi. Berbagai upaya sudah kutempuh dari menyisir tepi kolam sampai pada tengah kolam bahkan para peserta berbaris untuk menyapu bersih tempat itu pada akhirnya juga tidak diktemukan.Sedih kehilangan selembar slayer, bukan karena harganya akan tetapi ada nilai tersendiri dari slayer itu. Karena untuk mendapatkannya membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu tiga hari tiga malam, belum lagi harus meninggalkan pekerjaaan, keluarga, mengeluarkan biaya yang cukup besar dan ditambah lagi yang pasti seluruh badan terasa capek sekali. Itulah  mengapa ketika kehilangan selembar slayer membuatku bersedih.Mungkin kalian juga pernah mengalami kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupan ini, bahkan mungkin saja barang yang hilang tadi tidak akan bisa tergantikan dengan apapun. Akan tetapi ku yakin barang yang telah hilang akan mendapatkan ganti dari Allah yang lebih baik dari itu, dan ku yakin pula dengan melupakan kejadian itu sedikit bisa mengurangi rasa sedih yang kita rasakan.


Selasa, 11 September 2012

BAGAIMANA MENJADI ABDAN SYAKURO ?


BAGAIMANA MENJADI ABDAN SYAKURO ?

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan kita agar kita selalu bersyukur kepada-Nya; bersyukur atas segala ni’mat yang telah Allah berikan kepada kita tanpa harus melihat besar kecilnya ni’mat yang di dapat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kamu kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”. 

Bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala bukanlah sekedar atas ni’mat atau pemberian yang ada pada kita saja. Akan tetapi kita bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah karena bersyukur merukapan cerminan diri kita sebagai hamba-Nya yang bertakwa; yang tulus nan setia menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya “maka bertakwalah kamu kepada Allah, agar kamu (dapat) bersyukur kepada-Nya”. (Ali ‘imron : 123)

Dan bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.adalah juga merupakan sebuah pembuktian akan kejujuran penghambaan diri kita hanya kepada-Nya La Syariika Lah. Subuah bukti bahwa hanya kepada-Nya lah kita menghambakan diri yang lemah ini. “dan bersyukurlah kamu kepada Allah, jika memang benar hanya kepada-Nya lah kamu menghambakan diri”. (Al Baqoroh : 172)  

Seorang hamba bisa dikatakan sebagai hamba yang bersyukur apabila ia; yang pertama meyakini bahwa ni’mat/karunia yang ada pada dirinya merupakan pemberian dan titipan dari Allah subhanahu wa ta’ala      yang jikalau Allah berkehendak, Allah bisa mengambilnya kembali. Hal ini pernah dicontohkan oleh Nabi kita Sulaiman ‘alaihis salam ketika beliau mendapat ni’mat dan karunia dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala“(Nabi Sulaiman) berkata: "Ini merupakan kurnia dari Allah untuk mengujiku apakah aku bersyukur (atas karunia ini) ataukah aku mengingkarinya. Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Allah Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia." (An Naml : 40)

Yang kedua; hamba yang bersyukur adalah ia yang bibirnya selalu mengucap kata Alhamdulillah disetiap kali ia mendapat ni’mat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala .atau disetiap kali ia menyadari bahwa dirinya mempunyai banyak kebaikan dan kelebihan. Hal ini sebagaimana telah dicontohkan oleh Bapak dan anaknya yaitu Nabi Daud dan Nabi Sulaiman ‘alaihimas salam. “dan keduanya mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman." (An Naml : 15)

Bahkan ketika seorang hamba ditimpa musibah pun, ia mampuh mengucapkan kata ‘Alhamdulillah…’. Dan ini-lah seorang hamba yang pernah dikatakan oleh seorang ‘alim ‘ulama bahwa ; “orang pertama yang diseru untuk memasuki syurga adalah asy syakiru ‘ala musibah (orang yang mampuh bersyukur atas musibah yang menimpanya). Dan dalam hadits pun diriwayatkan bahwa hamba yang seperti ini akan dibangunkan baginya sebuah rumah di syurga. Dari Abu Musa al Asy ‘ari berkata; Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda“Apabila telah meninggal seorang anak dari hamba Allah, Allah berkata kepada para malaikat-Nya ; ‘apakah kalian telah mengambil nyawa anak hamba-Ku?’.. para malaikat berkata ; ‘ya’.. Allah berkata lagi ; ‘kalian telah mengambil nyawa buah hatinya?’.. malaikat berkata : ‘ya’.. kemudian Allah berkata ; ‘lalu apa yang diucapkan hamba-Ku?’.. malaikat berkata ; ‘ia memuji-Mu (Alhamdulillah) dan beristirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un)’.. kemudian Allah berkata ; ‘bangunkanlah untuk hamba-Ku sebuah rumah di syurga, dan namailah rumah itu RUMAH PUJIAN’..” (HR At Tirmidzi Hasan Shohih)

Yang ketiga; hamba yang bersyukur adalah ia yang selalu menggunakan setiap ni’mat yang ada pada dirinya adalah untuk kebaikan di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.. Ia menggunakannya dalam rangka meningkatkan ketaatan dan taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Dan ia menggunakannya  adalah untuk kepentingan agama, untuk kemanfa’atan banyak orang yang mana Allah redho terhadapnya dan ia pun redho terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hal ini pernah dicontohkan oleh para sohabat Radiyallahu ‘Anhum yang mana mereka berkorban menginfakkan harta, tenaga serta jiwa mereka di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka mengabdikan diri di jalan-Nya demi meraih cita-cita tertinggi sebagai syuhada.

Yang keempat; hamba yang bersyukur adalah ia yang mampu merespon atau menanggapi sebuah ni’mat atau karunia yang telah Allah berikan kepadanya. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang mana beliau telah dikaruniakan sebuah ni’mat yang begitu agung yaitu telah dijanjikan syurga dan telah diampuni dosa-dosa beliau baik yang telah lalu mau pun yang akan datang. Beliau Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam merespon atau menanggapi adanya ni’mat karunia tersebut dengan banyak beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga diriwayatkan dalam hadits bahwa kaki beliau sampai bengkak-bengkak dikarenakan seringnya beribadah; berdiri, bersujud dihadapan AllahSubhanahu Wa Ta’ala sampai istrinya ‘Aisyah bertanya; “ya Rasulallah, bukankah engkau telah dijanjikan syurga oleh Allah dan telah diampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?.. lalu mengapa engkau membebani diri dengan banyak beribadah sampai kakimu bengkak?”.. Rasulullah pun menjawab; “tidak-kah boleh jikalau aku menjadi hamba-Nya yang bersyukur?”..

Dan yang kelima atau yang terakhir; hamba yang bersyukur adalah ia yang mampu menghargai kebaikan orang lain. Ia senang berterima kasih atas kebaikan orang-orang di sekelilingnya.

Dari Abu Huroiroh Radiyallahu ‘Anhu dari Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallambersabda; “tidak dianggap bersyukur kepada Allah, seorang yang tidak pernah berterima kasih (atas kebaikan orang lain kepadanya)”. Dan dalam riwayat lain, beliau bersabda;“manusia yang paling bersyukur kepada Allah adalah ia yang senang berterimakasih kepada manusia lainnya (atas kebaikan mereka)”.

Akhirnya saya mengingatkan bahwa tidaklah perlu kita memikirkan bagaimana caranya agar kita bisa mendapatkan harta yang banyak, tidak perlu memikirkan bagaimana caranya agar kita bisa lebih kaya dari orang lain… tapi hendaknya, kita berfikir bahwa bagaimana caranya agar diri kita ini bisa menjadi hamba yang selalu bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas segala ni’mat dan karunia-Nya yang begitu banyak. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Ibrohim : 34)
           

Minggu, 09 September 2012

JANGANLAH KAMU HARAPKAN………………..





JANGANLAH KAMU HARAPKAN………………..


Orang yang banyak bicaranya janganlah kamu harapkan sangat kesedaran hatinya.

Orang yang banyak makan janganlah kamu harapkan sangat kata-kata himat darinya.

Orang yang banyak bergaul dengan manusia janganlah kamu harapkan sangat kemanisan ibadahnya.

Orang yang cinta kepada dunia janganlah kamu harapkan sangat khusnul khatimahnya.

Orang yang bodoh janganlah kamu harapkan sangat akan hidup hatinya.

Orang yang memilih berkawan dengan orang yang zalim janganlah kamu harapkan sangat kelurusan agamanya.

Orang yang mencari keredhaan manusia janganlah harapkan sangat akan keredhaan Allah dari padanya."


Sabtu, 08 September 2012

CANTIK…MANIS…..TETAPI SULIT




CANTIK…MANIS…..TETAPI SULIT

Adalah dua hal yang sangat disukai oleh semua orang yaitu kecantikan ataupun keindahan dan rasa yang manis. Jika keduanya terkumpul jadi satu sungguh akan beruntunglah orang yang mendapatkannya, akan tetapi tidaklah mudah untuk mendapatkan keduanya tadi.

Rasulullah SAW, dengan sahabat-sahabatnya Abakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a.,dan 'Ali r.a., bertamu ke rumah Ali r.a. Di rumah Ali r.a. istrinya Sayidatina Fathimah r.ha. putri Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut terikut di dalam mangkuk itu. Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yangcantik, madu, dan sehelai rambut).

Abubakar r.a. berkata, "iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini,orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut".

Umar r.a. berkata, "kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini,seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Utsman r.a. berkata, "ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber'amal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

'Ali r.a. berkata, "tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamutamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumahnya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Fatimah r.ha.berkata, "seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Rasulullah SAW berkata, "seorang yang mendapat taufiq untuk ber'amal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, ber'amal dengan 'amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat 'amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Malaikat Jibril AS berkata, "menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri; harta; dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Allah SWT berfirman, " Syurga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat syurga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju syurga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Rabu, 05 September 2012

MEMAKAN HASIL KERJA SENDIRI


MEMAKAN HASIL KERJA SENDIRI

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, yang artinya: "Tidak ada sama sekali cara yang lebih baik bagi seseorang untuk makan selain dari memakan hasil karya tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud 'alaihis salam makan dari hasil jerih payahnya sendiri" (HR. Bukhari).

Alkisah, hiduplah seorang yang terkenal dengan kesalehannya, sebut saja si Fulan. Ia mempunyai sahabat karib ( yang bernama Ibrahim ) yang terkenal sangat zuhud. Orang sering memanggil Ibrahim  dengan panggilan Abu Ishak.

Pada suatu hari,si Fulan berangkat ke negeri orang untuk berdagang. Sebelum berangkat, tidak ketinggalan ia berpamitan kepada sahabatnya itu. Namun belum lama si Fulan meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia datang lagi. Sahabatnya menjadi heran, mengapa ia pulang begitu cepat dari yang direncanakannya. Padahal negeri yang ditujunya sangat jauh lokasinya. Ibrahim  yang saat itu berada di masjid langsung bertanya kepada si Fulan, sahabatnya. "Wahai Fulan sahabatku, mengapa engkau pulang begitu cepat?""Dalam perjalanan", jawab si Fulan, "aku melihat suatu keanehan, sehingga aku memutuskanuntuk segera membatalkan perjalanan"."Keanehan apa yang kamu maksud?" tanya Ibrahim  penasaran."Ketika aku sedang beristirahat di sebuah bangunan yang telah rusak", jawab si Fulan menceritakan, "aku memperhatikan seekor burung yang pincang dan buta. Aku pun kemudian bertanya-tanya dalam hati. "Bagaimana burung ini bisa bertahan hidup, padahal ia berada ditempat yang jauh dari teman-temannya, matanya tidak bisa melihat, berjalan pun ia tak bisa"."Tidak lama kemudian", lanjut si Fulan, "ada seekor burung lain yang dengan susah payah menghampirinya sambil membawa makanan untuknya. Seharian penuh aku terus memperhatikan gerak-gerik burung itu. Ternyata ia tak pernah kekurangan makanan, karena ia berulangkali diberi makanan oleh temannya yang sehat"."Lantas apa hubungannya dengan kepulanganmu?" tanya Ibrahim  yang belum mengerti maksud kepulangan sahabat karibnya itu dengan segera. "Maka aku pun berkesimpulan", jawab si Fulan seraya bergumam, "bahwa Sang Pemberi Rizki telah memberi rizki yang cukup kepada seekor burung yang pincang lagi buta dan jauh dari teman-temannya. Kalau begitu, Allah Maha Pemberi, tentu akan pula mencukupkan rizkiku sekali pun aku tidak bekerja". Oleh karena itu, aku pun akhirnya memutuskan untuk segera pulang saat itu juga". Mendengar penuturan sahabatnya itu, Ibrahim  berkata, "wahai si Fulan sahabatku, mengapa engkau memiliki pemikiran serendah itu? Mengapa engkau rela mensejajarkan derajatmu dengan seekor burung pincang lagi buta itu? Mengapa kamu mengikhlaskan dirimu sendiri untuk hidup dari belas kasihan dan bantuan orang lain? Mengapa kamu tidak berpikiran sehat untuk mencoba perilaku burung yang satunya lagi? Ia bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan kebutuhan hidup sahabatnya yang memang tidak mampu bekerja? Apakah kamu tidak tahu, bahwa tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah?"

Si Fulan pun langsung menyadari kekhilafannya. Ia baru sadar bahwa dirinya salah dalam mengambil pelajaran dari kedua burung tersebut. Saat itu pulalah ia langsung bangkit dan mohon diri kepada Ibrahim seraya berkata, "wahai Abu Ishak, ternyata engkaulah guru kami yang baik". Lalu berangkatlah ia melanjutkan perjalanan dagangnya yang sempat tertunda.



Minggu, 02 September 2012

MEMANUSIAKAN MANUSIA………………………….


MEMANUSIAKAN   MANUSIA………………………….

“ UWONG IKU NAK ORA BISO NGUWONGNO UWONG MONGKO ORA BAKAL DIUWONGNO UWONG
LHA NAK WONG MAHU NGUWONGNO UWONG MONGKO BAKAL DIUWONGNO UWONG ”

“ IF  A HUMAN IS NOT ABLE  TO HUMANIZE THE OTHER HUMANS, HE WILL NOT BE HUMANIZED BY
THEM IF HE IS ABLE TO HUMANIZE THE OTHER HUMANS HE WILL BE HUMANIZED BY THEM ”

 ZAITUN ( Zaman Akhir Ini Untuk Ngaji )   Salah satu fenomena yang cukup memprihatinkan pada zaman kita saat ini adalah rendahnya semangat d...