Selasa, 31 Juli 2012

Menjaga Anggota Badan


Menjaga Anggota Badan


Ketika shaum kita diwajibkan untuk menjaga anggota badan dari maksiat dan dosa. Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak mampu meninggalkan perkataan dosa dan dia melakukannya, maka Allah SWT tidak membutuhkan dia unutk meninggalkan makan dan minum.” (Bukhari)

Imam al-hafidz ibnu Hajar mengatakan bahwa shaum tidak akan diterima jika dibarengi dengan perkataan dan tindakan dosa.

Oleh karena itu saat berpuasa hendaknya kita menjaga tubuh dari kemaksiatan, mengkondisikan diri dan akal untuk tidak berfikir kecuali taat kepada Allah SWT, tidak membawa hati kecuali pada kebaikan kaum muslimin dan muslimat, dan mengkondisikan kedua mata atau kedua telinga atau lisan dengan apa yang dicintai.

Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِين

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah SWT benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut: 69)

Puasa di bulan Ramadhan adalah merupakan ajang untuk takhalli (membersihkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat), tahalli (menghiasi diri dengan perbuatan baik dan terpuji), dan tajalli (mengagungkan Allah SWT dalam berbagai kesempatan dan tempat).
Dan bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan Rahmat, ampunan (maghfirah) dan jaminan seorang hamba terlepas dari siksa neraka, bahkan dilengkapi pula pada sepuluh akhir Ramadhan dengan lailatul Qadar, yaitu malam yang lebih istimewa dari seribu bulan.

Sebagaimana puasa yang bermakna al-imsak (menahan diri) tidak sekadar menahan rasa lapar dan dahaga saja, namun juga harus menahan al-jawarih wal bathin (perilaku raga dan hati) dari hal-hal yang dapat mengurangi, mengotori dan bahkan menghilangkan pahala puasa. Baik dari ucapan, pendengaran, penglihatan, kedipan mata, gerakan tangan, langkah kaki hingga pada perasaan hati. Karena itulah untuk mencapai maqam puasa yang benar-benar sempurna sangatlah sulit, harus memenuhi berbagai langkah dan tingkatan, sehingga wajar kalau puasa merupakan ibadah yang paling berat yang tidak dapat ditunaikan kecuali bagi siapa yang memiliki derajat salik ilal huda (pejalan menuju hidayah). Dan karena itulah tingkatan puasa menurut shahib Ihya Ulumuddin, syeikh imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa puasa terdiri pada tiga tingkatan:

  1. Puasa umum (shaumul ‘umuum)

Yaitu puasa yang dilakukan dengan cara menahan makan, minum dan sanggama dari mulai imsak sampai dengan waktu berbuka (magrib). Ini sudah banyak dijelaskan di beberapa kitab hukum puasa.

Kebanyakan orang awam, mereka melaksanakan puasa hanya sekedar menahan makan, minum dan sanggama di siang hari, tanpa menggali lebih dalam lagi tentang makna puasa itu sendiri. Sehingga banyak orang yang terjebak dalam pelaksanaannya, karena mereka hanya berkutat di sekitar lahiriah saja. Andai pun mereka mampu menahan dan menekan keinginan syahwat nafsu binatangnya, tetap saja masih di sekitar wilayah jasmani, seperti menahan lapar, dahaga, dan sanggama belaka. Padahal perjuangan tersebut belum mencapai tingkatan puasa yang sesungguhnya.

Nabi saw bersabda:

“Banyak orang yang melaksanakan puasa, tetapi tidak ada yang diperoleh dari puasanya, kecuali sekedar lapar dan dahaga belaka.” (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah)

  1. Puasa khusus atau istimewa (shaumul khushush)

Yaitu puasa bagi para shalihin dan muttaqin. Mereka melaksanakan puasa tidak sekadar menahan lapar, dahaga dan sanggama di siang hari saja, namun disamping itu berusaha meningkatkan puasanya hingga pada kualitas batiniahnya. Mereka dalam puasanya, menahan keinginan syahwat nafsu syaitan, yang merupakan sifat madzmumah(buruk) pada dirinya. Sifat tersebut terwakili pada nafsu sawwalat (syaitan) yang bercokol pada setiap jiwa manusia. Nafsu sawwalat mempunyai beberapa sifat buruk seperti riya, hasad, takabur, ujub, ghibah, namimah, ghadhab, hubbul mal, hubbul jah dan hubbud dunya.

Sifat-sifat tersebut yang harus dikendalikan, agar tidak liar menguasai diri seseorang yang sedang puasa. Jika seseorang telah mampu menguasai dan mengendalikan sifat-sifat yang buruk tersebut, maka secara otomatis semua anggota tubuh yang lahir seperti tangan, kaki, mata, telinga, mulut dan lainnya akan terkendali pula. Dengan kata lain, seluruh anggota tubuhnya ikut berpuasa, karena telah dikendalikan dari dalam diri, yaitu pengendalian pada nafsu lawwamah.

Inilah sesungguhnya puasa bagi orang-orang yang khusus (istimewa) yang telah mencapai derajat shalihin dan muttaqin.

Puasa pada tingkatan ini juga dapat diartikan sebagai tahapan Takhalli (pembersihan diri) dari sifat-sifat yang buruk pada diri seorang hamba. Karena hakikat makna Takhalli ialah penyucian jiwa seorang salik hingga mencapai kebersihan yang hakiki. Maka dengan puasa pada tingkatan khusus ini, seseorang dapat mencapai pengosongan diri dari segala macam sifat yang madzmumah. Kemudian dilanjutkan Tahalli (menghiasi) dengan sifat-sifat yangmahmudah (terpuji). Sifat terpuji pada diri seseorang, dapat ditemui dalam pelaksanaan ibadah yang istiqamah dan kehidupan yang jauh dari maksiat lahir maupun batin. Sebagaimana anggota tubuh yang telah dikendalikan dengan puasa, sehingga semua yang dilakukan oleh anggota tubuh itu selalu terpuji.

  1. Puasa yang lebih khusus atau teristimewa (shaumul khushushul khushush).

Yaitu puasa yang lebih khusus atau teristimewa. Ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang telah bersih hatinya seperti para nabi dan arifin billah. Di samping beliau melaksanakan puasa pada tingkatan pertama dan kedua, beliau lebih jauh lagi pendalaman pelaksanaan puasanya pada tingkatan hati yang jernih.

Puasa pada tingkatan ini, harus menahan diri dari rasa atau keinginan untuk memiliki sesuatu apa atau siapa pun yang ada di dunia ini. Karena keinginan tersebut dapat menghalangi dirinya dari memandang keelokan Wujud Allah SWT. Karena Puasa pada tingkatan khushushul khusush, jika di dalam hatinya ada sesuatu selain Allah SWT yang dapat melupakan dirinya pada wujud-Nya, maka puasanya dihukumkan batal. Karena itu, ada seorang arifin billah yang menyatakan: “Andai kata terlintas di dalam hatiku suatu kehendak akan yang lain selainmu karena jiwaku melupakannya, maka hukumkan diriku sebagai murtad.”

Orang-orang yang puasa pada tingkatan ketiga ini, hatinya selalu ingat pada Allah SWT dengan syuhud (memandang dan menyaksikan) semua yang ada di bumi ini, baik lahir maupun batin dikembalikan kepada Allah SWT. Ini sebagai kelanjutan dari Takhalli dan Tahalli sampai jadi dan merasakan Tajalli (tampak).

Tajalli itu merupakan hasil dari tingkatan para salik yang telah berproses dari pengosongan diri dari sifat-sifat madzmumah dan dilanjutkan menghiasinya dengan sifat-sifat mahmudah, kemudian menjadi kelihatan hakikat yang dituju yaitu Allah SWT. Inilah Tajalli orang-orang yang berpuasa pada tingkatan ketiga, yaitu orang yang telah diistimewakan oleh Allah SWT.

وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَا. جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ مَنْ تَزَكَّى

“Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), yaitu) surga ‘Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan).” (Taha: 75-76).

Jumat, 27 Juli 2012

SAUDARAKU...........ADA APA DENGANMU........???


SAUDARAKU...........ADA APA DENGANMU........???

Masih ingat di telingaku saat kau menjelaskanku tentang arti sebuah pengorbanan, waktu itu kau sampaikan dengan penuh semangat, bahwa ternyata seekor lalat bisa membawa kesengsaraan dan juga bisa membawa kenikmatan.  Karena lalat itu dijadikan sarana untuk pengorbanan ( persembahan ). Ketika mengiyakan maka ia akan masuk neraka dan ketika menolak justru ia akan selamat. Masih ingatkah saudaraku pesanmu ini............?

Masih terngiang ditelingaku juga nasehatmu yang lain, disaat kau memberikan petuah bagaimana seharusnya seseorang berbuat ADIL kepada semuanya, baik terhadap musuh dan kaum kerabat  sendiri. Kau tegasnya bahwa jika Fatimah binti Muhammad mencuri niscaya akan aku potong tangannya,  demikianlah nasehat itu, yang menunjukkan betapa adilnya hukum dalam Islam, tidak memandang siapa yang salah semua akan kena sanksinya. Tapi kenapa ketika itu terjadi dalam kerabatmu kamu jadi bimbang untuk menegakkannya..........?

Nasehat yang lainpun masih belum kulupakan ketika kau memberikan nasehat untuk selalu berbuat sopan, santun, dan ramah kepada semua manusia, karena dengan sifat inilah mereka mau mendengarkan ataupun mengikuti  ajakan kita.  Jika kau berkeras hati maka orang disekitarmu akan lari dari mu, itulah yang sering kau bisikkan kepadaku. Namun sekarang sifat itu sudah tidak lagi bersemayam dalam dirimu......kenapa?

Yang terakhir kau mengajakku untuk senantiasa hidup dalam kesederhanaan, makan seadanya bahkan tidurpun juga demikian. Itu semua karena kita sama sama ingin mencontoh apa yang kita kaji bersama betapa sederhananya Rasulullah, meski punya harta yang melimpah tapi tetap dalam kesederhanaan.  Tapi sekarang kau lupakan itu.....kau tidur dari satu hotel kehotel yang lain dan kau juga makan dari satu restauran ke restauran yang lain, kau sudah melupakan semuanya.......ada apa denganmu......?

Rabu, 25 Juli 2012

Al-Juud (Berderma)




Al-Juud (Berderma)


Dengan shaum kita dikondisikan untuk merasakan kepedihan orang dhu’afa dan miskin; lapar, dahaga, dan yang sakit sepanjang tahun. Ramadhan sebagai titik tolak munculnya sifat peduli dan solidaritas serta dermawan

Dalam hadits Rasulullah saw. dari Abdullah bin Abbas, berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جَبْرَيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ ، وَكَانَ جَبْرَيلُ يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- الْقُرْآنَ. فَإِذَا لَقِيَهُ جَبْرَيلُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ.

“Bahwa Rasulullah saw merupakan manusia paling dermawan terhadap kebaikan, dan kedermawanannya meningkat saat masuk bulan Ramadhan, dan ketika Jibril mentalaqqi nabi, dan jibril selalu mentalaqqinya setiap malam bulan Ramadhan hingga selesai membaca Al-Qur’an, dan ketika dijumpainya, nabi paling dermawan dalam kebaikan dari pada angin yang bertiup.” (Bukhari)

Dalam bulan Ramadhan umat Islam juga diajak untuk memiliki kepedulian terhadap sesama umat manusia, terutama sesama umat Islam, sehingga ada perasaan empati dan mau mensyukuri akan nikmat yang telah Allah SWT anugerahkan kepadanya.

Bahwa mensyukuri nikmat tidak hanya sekadar mengucapkan tahmid (al-hamdulillah) dan syukur (As-Syukru lillah), dan mengabdikan diri kepada Allah SWT sehingga terjalin hubungan erat kepada Allah SWT, namun juga dengan memberikan sebagian rezki kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Dan dari situlah akan terjalin hubungan yang erat manusia kepada sesama.

Berderma beda dengan zakat, karena zakat merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh orang yang telah memiliki nishab (batas jumlah) dan haul (batas waktu) dari harta yang dimiliki, sebagaimana berderma juga tidak hanya khusus bagi orang kaya, namun selain orang kaya pun dapat melakukannya. Karena itulah Rasulullah saw memotivasi sahabatnya untuk berderma dengan memberi makan kepada orang yang berpuasa sehingga mendapatkan pahala dari orang yang berpuasa tersebut. Dalam haditsnya beliau bersabda:

“Siapa saja yang pada bulan itu memberikan makanan berbuka kepada orang yang puasa, maka perbuatan itu menjadi pengampunan atas dosa-dosanya, kemerdekaan dirinya dari api neraka, dan ia mendapatkan pahala seperti pahala orang berpuasa yang diberinya makanan berbuka itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu”. Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, tidak semua dari kami memiliki makanan berbuka untuk orang-orang yang berpuasa. Rasulullah saw. pun menjawab: “Allah SWT memberikan pahala tersebut kepada orang yang memberikan sebutir korma sekalipun atau sekadar se teguk air atau se hirup susu. Bulan Ramadhan ini adalah bulan yang permulaannya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka. Siapa saja yang meringankan beban dari orang yang dikuasainya (hamba sahaya atau bawahannya), niscaya Allah SWT mengampuni dosanya dan membebaskannya dari api neraka.

Selasa, 17 Juli 2012

LIMA KELEMAHAN SETIAP ORANG,


LIMA KELEMAHAN SETIAP ORANG,


1. Disaat sembarangan, mudah membunuhnya.


2. Disaat takut, mudah menangkapnya.


3. Disaat marah, mudah menghasutnya.


4. Disaat sensitif, mudah menjadikannya terhina.


5. Disaat emosional, mudah membuatnya gelisah.

Sabtu, 14 Juli 2012

Tsubut Syahr (Ketetapan Bulan)




Tsubut Syahr (Ketetapan Bulan)


Adapun bulan Ramadhan ditetapkan masuk dan keluarnya melalui penampakan hilal (bulan sabit). Rasulullah saw bersabda:

لاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلالَ وَلا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

“Janganlah kalian berpuasa sehingga kalian melihat hilal dan jangan berbuka sehingga kalian melihat hilal, dan jika terjadi kesamar-samaran maka hitunglah baginya (hingga kehari 30). Dan dalam riwayat lain: “Lengkapilah hingga 30 hari.” (Muttafaq alaih).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan akan ijma Ulama bahwa tidak boleh bergantung pada hisab dalam menentukan hilal. (Majmu fatawa syaikh bin Baz, 4/174), dan seorang muslim hendaknya berpuasa mengikuti negara di mana dia tinggal, begitupun dengan berbuka, sebagaimana sabda Rasulullah saw:

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

“Puasalah pada hari kalian berpuasa dan berbuka pada hari kalian berbuka sementara Idul Adha pada saat kalian berkurban.” (Tirmidzi dan ditashih oleh Al-Albani)

Selasa, 10 Juli 2012

Pola Dan Proses Pembelajaran Orang Dewasa (Andragogi)


Pola Dan Proses  Pembelajaran Orang Dewasa (Andragogi)

Pola dan proses pembelajaran bagi orang dewasa/andragogi (adult learning), khususnya bagi merekayang telah berkecimpung di tempat kerja, tentu memerlukan pola dan pendekatan yang bersifat khusus. Berdasarkan pengalaman dan teori, proses pembelajaran orang-orang dewasa mempunyai ciri-ciri sebagai berikut (Robert Pikes, Creative Training Technique, 1992.

1.      Orang dewasa itu seperti “bayi”, hanya badannya saja yang besar.

2. Umumnya orang dewasa “tidak akan membantah” suatu pendapat asal selaras pemahaman dan pengalamannya sendiri.

3.     Dalam hal belajar, orang dewasa cenderung ingin cepat, mudah ,dan praktis karena pada umumnya mereka sibuk dengan pekerjaan dan tanggung jawabnya sehingga sering hampir kekurangan waktu.

4.    Keberhasilan proses pembelajaran orang dewasa umumnya harus selaras dengan faktor fun and enjoyement yang  mereka peroleh dalam pelaksanaan dan pengembangannya.

5.      Di sisi lain, sebenarnya orang dewasa adalah mahluk yang cerdas dan cepat belajar asal kebutuhan itu datang dan tumbuh dari dorongannya sendiri.

6.    Secara umum, ditunjang oleh pengalaman dan tingkat kedewasaan pribadinya, orang dewasa bisa belajar dari siapa saja. Selain itu, mereka juga bisa belajar dalam suasana formal maupun informal.

7.     Karena tingkat pengetahuan dan pengalamannya, umumnya orang dewasa juga mampu belajar melalui proses analogi.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa agar efektif dan efisien, salah satu alternatif pola dan proses pembelajaran bagi orang dewasa sebaiknya dilakukan melalui pendekatan learning by doing / learning by experiencing.

Dalam konsep di atas, proses pembelajaran dilaksanakan melalui empat tahapan sebagai berikut.
1.       Adanya Suatu Aktivitas

Para peserta terlibat secara fisik, interaktual, maupun emosional dalam upaya memperoleh pengetahuan atau keterampilan dalam hal yang diperlukan.

2.       Adanya Proses Diskusi

Para peserta tidak hanya belajar secara individual, tapi juga bisa belajar berkelompok sehingga akan lebih memperkaya dan menambah aspek kedalaman pemahaman aspek yang sedang dipelajari.

3.       Adanya Proses Perenungan

Secara individual, para peserta didorong untuk menginteralisasikan konsep, pengetahuan, dan keterampilan yang baru saja diperoleh dalam kegiatan mereka sehari-hari.

4.       Adanya Proses Rancangan Tindak Lanjut/Penerapan

Proses ini berguna untuk melatih dan menyempurnakan proses belajar berbagai keahlian yang baru saja didapatkan para peserta.

Dalam aspek inilah sesungguhnya pendekatan pelatihan pengembangan SDM melalui program outdoor dan fun games activities memiliki landasan persamaan.

Senin, 09 Juli 2012

Konsep Dasar Program Outdoor Dan Fun Games Activities


Konsep Dasar Program Outdoor Dan Fun Games Activities
Saat ini situasi persaingan global yang semakin keras dan tajam kian merebak, membongkar berbagai pembatas antar negara sehingga aliran dana, informasi dan sumber daya lainnya bebas mengalir ke mana saja mengikuti hukum ekonomi. Secara langsung atau tidak, situasi tersebut mengharuskan kita untuk lebih memperhatikan pelatihan dan pembangunan SDM sebagai salah satu aset paling mendasar yang melekat pada organisasi. Dengan demikian, SDM tersebut mampu bersaing dengan para pesaing yang datang tak terbendung dari berbagai tempat di belahan dunia lainnya.

      Namun di sisi lain, harus disadari bahwa SDM merupakan sumber daya unik yang agak berbeda dengan sumber daya yang lain. Hal ini disebabkan oleh hal-hal berikut.

1.     SDM dikatakan unik karena diantara mereka tidak ada yang “persis sama satu sama lain”. Sekalipun mereka kembar identik. Secara individual, mereka tetap mempunyai perbedaan.

2.    Jika SDM memperoleh perlakuan yang pas, maka hasil kerja yang sama bisa menghasilkan efek sinergi, yaitu suatu efek hasil pertambahan nilai yang tidak mengikuti deret tambah (1+1=2), tetapi mengikuti deret ukur sehingga hasilnya lebih besar ( 1+1=7..., dan lain –lain) .

3. Sampai kapan pun , SDM tidak bisa “dimiliki”, tapi sangat membutuhkan “investasi” agar bisaberprestasidengan baik.

4.    Pada dasrnya SDM mempunyai potensi “konstruktif dan destruktif” yang sama dahsyatnya. Potensi yang akan muncul pun sangat tergantung dari bagaimana cara memperlakukan mereka.

5.   Apabila unsur sumber daya yang lain bisa dievaluasi, aspek SDM ini justru kebalikannya, mereka sangat membutuhkan “reapresisasi” mengikuti jalannya waktu.

      Oleh karena itu, sudah saatnya mencari pendekatan lain yang bisa dilakukan untuk melatih dan mengembangkan pootensi SDM secara lebih efektif dan efisien. Dalam upaya itulah, pendekatan outdoor dan fun games activities training menjadi salah satu alternatif jalan keluarnya yang patut dipertimbangkan.

Jumat, 06 Juli 2012

At-Tarawih (Shalat Tarawih)




At-Tarawih (Shalat Tarawih)

Di antara keistimewaan bulan Ramadhan adalah disyariatkannya shalat tarawih; yaitu shalat qiyam al-lail (shalat malam) yang dilaksanakan ba’da shalat Isya secara berjamaah. Shalat tarawih merupakan shalat sunnah yang hanya dilakukan di malam-malam bulan Ramadhan, karena itu shalat ini disebut juga dengan qiyam Ramadhan.

Pada bulan ini disamping diwajibkan puasa Ramadhan, Rasulullah SAW juga mensunnahkan qiyam Ramadhan, dan siapa saja yang mengerjakan shalat tarawih berarti sudah mengerjakan qiyam Ramadhan.

Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فَرَضَ صَِيامَ رَمَضَانَ وَسَنَنْتُ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ احْتِسَابا خَرَجَ مِنَ الذُّنُوْبِ كَيَوْمٍ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Sesungguhnya Allah SWT mewajibkan puasa Ramadhan dan aku mensunnahkan shalat pada malam harinya, barangsiapa berpuasa dan shalat malam dengan mengharap pahala (keridhaan) dari Allah SWT, maka keluar seluruh dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya”.
(HR. Ahmad)
Adapun bentuk shalat tarawih  seperti yang disebutkan oleh Aisyah, istri Rasulullah saw. ketika ditanya tentang sifat shalat tarawih Rasulullah saw. pada bulan Ramadhan. Dia berkata: “Beliau tidak menginginkan pada bulan Ramadhan dan juga pada waktu lainnya kecuali 11 rakaat, beliau shalat 4 rakaat dan jangan ditanya akan kekhusyuan dan panjangnya, kemudian shalat lagi 4 rakaat dan jangan ditanya akan kekhusyuan dan panjangnya kemudian dilanjutkan dengan 3 rakaat.” (Imam Al Bukhari)

Dalam riwayat lain disebutkan:

إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

“Sesungguhnya seseorang jika melaksanakan shalat bersama imam sampai selesai maka telah dituliskan baginya qiyam lail”.

Diriwayatkan dari Umar bin Khattab, bahwa beliau melaksanakan shalat sunnat tarawih 21 rekaat.

Makna Tarawih

Kata tarawih adalah bentuk jamak dari kata tarwih, yang berasal dari kata raha yang artinya “beristirahat”. Shalat ini disebut shalat tarawih, karena orang yang menjalankan shalat ini mengambil istirahat sejenak setelah selesai shalat sunnah ba’da isya dua rakaat.

Shalat tarawih merupakan shalat ma’tsur (shalat yang pernah dicontohkan oleh Nabi SAW ) yang biasa dikerjakan secara berjama’ah di masjid oleh kaum muslimin selepas shalat Isya. Nabi SAW sangat menganjurkan umatnya agar tekun mengerjakan qiyam Ramadhan, seperti yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, katanya: adalah Rasulullah SAW. bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَلَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang melaksanakan qiyam Ramadhan karena iman (membenarkan janji-janji Allah SWT) dan ihtisaban (mangharap ridha Allah SWT dan pahala) niscaya diampunkan baginya dosa-dosanya yang telah lalu” (Bukhari dan Muslim).

Rasulullah SAW pernah mengerjakan pada malam kedua atau ketiga secara berjama’ah dengan para sahabatnya, kemudian pada malam berikutnya beliau tak hadir ke masjid, karena beliau khawatir shalat ini menjadi amalan yang diwajibkan atas mereka. Kemudian setelah itu para sahabat mengerjakannya secara furada (sendiri-sendiri). Namun akhirnya shalat tarawih dengan berjama’ah ini dihidupkan kembali oleh Khalifah Umar ra. dan yang bertindak sebagai Imam adalah Ubay bin Ka’ab.

Hukum shalat tarawih adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan) oleh Rasulullah SAW. hal ini berdasarkan hadits di atas. Dan Qiyam Ramadhan atau shalat tarawih dikerjakan dengan berjama’ah sesuai dengan tuntunan nabi saw dan telah dicontohkan oleh Umar bin Khattab yang telah menghidupkan kembali shalat tarawih secara berjama’ah dimasjid nabawi saat itu. Oleh karena itu, jumhur ulama (mayoritas ulama) berpendapat bahwa sunnah mengerjakan shalat tarawih dengan berjama’ah.

Dalam Riwayat Bukhari diceritakan shalat tarawih yang dipimpin oleh Ubai Bin Ka’ab tidak menyebutkan perihal jumlah rakaat. Oleh karena itu para ulama berbeda pendapat tentang banyaknya rakaat shalat tarawih sekaligus dengan witirnya, apakah 11 (sebelas) rakaat atau 13 (tiga belas) rakaat atau 21 (dua puluh satu) rakaat.

Diriwayatkan dari Jabir, katanya : “Bahwa Rasulullah SAW pernah mengerjakan shalat berjam’ah dengan mereka sebanyak 8 rakaat, kemudian mengerjakan shalat witir 3 rakaat. Barangsiapa yang melakukan shalat tarawih sebanyak 23 rakaat maka hal itu juga pernah dilakukan oleh para sahabat pada masa khlaifah Umar seperti yang telah diriwayatkan oleh sejumlah ulama, sedangkan kita diperintahkan untuk mengikuti Sunnah khulafaur Rasyidin Al-Mahdiyyin”.

Popular Posts

Pengikut