Ranking

Senin, 15 Oktober 2012

BERKACA PADA KELUARGA TELADAN


BERKACA PADA KELUARGA TELADAN

Bismillahirrahmanirrahiim

Ismail berkata,”Hai ayahku! kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Sebagai orang tua sudah selayaknya jika kita mau membaca sejarah, terlebih apa yang telah dilakukan oleh Ibrahim  AS terhadap keluarganya. Bagaimana beliau mendidik dan mentarbiyah sehingga melahirkan generasi yang sangat tangguh.

Untuk menjadikan generasi yang tangguh tidaklah semudah membalik telapak tangan, akan tetapi dibutuhkan berbagai usaha untuk kearah itu. Kalau kita cermati keberhasilan Ibrahim AS dalam mendidik keluarganya itu disebabkan oleh empat faktor, yaitu :

Yang pertama : Kesucian Niat dan doa orang tua

Ketika menempatkan Ismail dan ibunya Hajar didekat Baitullah, Nabi Ibrahim tidak lupa untuk berdoa demi masa depan Ismail putranya, bahkan doa Ibrahim yang sangat panjang ini telah diabadiakn oleh Allah dalam surat Ibrahim sepanjang tujuh ayat dari ayat 35 sampai ayat 41.

Jadi niat suci Ibrahim ketika menempatkan Ismail di tempat itu adalah agar kelak ia dan keturunannya bisa konsisten dalam menegakkan ibadah sholat, dan u ntuk merealisir niat suci ini tidak lupa beliau senantiasa memohon pada Allah. Ironisnya, banyak dari orang tua sekarang ketika menyekolahkan anaknya, mereka memiliki tujuan-tujuan yang tidak benar, cenderung materialis dan berorientasi sangat jauh dari tujuan-tujuan luhur pendidikan, disamping mereka sama sekali lupa untuk berdoa demi keberhasilan pendidikan anaknya.

Yang Kedua: Kesucian Lingkungan dan lokasi belajar

Ismail tumbuh menjadi anak yang cerdas dan shalih karena peran orang tuanya. Niat suci dalam menempatkan di lembah yang gersang ini serta tidak kalah pentingnya dengan kesucian dan kebersihan lingkungan belajar bagi Ismail, di mana ia dan ibunya tinggal di dekat Baitullah yang sangat dihormati oleh umat manusia, dimana mereka berusaha untuk tidak melakukan perbuatan perbuatan dosa dan meningkatkan berbgbai amal kebaikan di tempat suci ni.. Tentu saj lingkungan seperti ini sangat kondusif dan representative untuk belajar dan pembinaan diri sehingga hasilnya bisa kita lihat pada sosok Ismail yang penuh dengan keteladanan. Ironisnya, banyak dari orang tua sekarang ini justru menyekolahkan anak-anaknya disekolah-sekolah yang nilai nilai Islmanya tidak bisa diaplikasikan sama sekali.

Yang ketiga : Kesucian Guru dan pendidik

Faktor yang sangat  penting bagi keberhasilan pendidikan anak adalah sosok guru dan pendidik yang selalu memantau dan mengarahkan serta menanamkan nilai-nilai kebenaran pada diri anak sehingga tumbuh menjadi anak yang shalih, cerdas dan berbakti kepada orang tua. Guru dan pendidik bagi Ismail tidak lain adalah ibunya  sendiri yang memiliki keimanan, keyakinan, kesabaran, pemahaman dan sifat-sifat penting lainnya yang harus dimiliki oleh seorang pendidik yang berhasil.

Riwayat Bukhari dan Muslim ini barangkali bisa memberikan sedikit gambaran sosok pendidik yang telah menghantarkan Ismail menjadi anak yang sholih. Diceritakan bahwa ketika Ibrahim menempatkan istrinya Hajar bersama anaknya Ismail di tempat yang gersang dan tidak ada sumber air dengan perbekalan yang sangat terbatas, maka wajar saja bila Hajar pada waktu itu bertanya kepada suaminya dengan penuh keharanan, “Siapakah yang memerintahkanmu untuk menempatkan kami ditempat ini, apakah Allah yang memerintahkannya? Pada waktu itu Ibrahim hanya menjawab singkat, “Ya”. Mendengar jawaban itu, ia  ( Hajar ) dengan penuh keyakinan dan tanpa keraguan sedikitpun mengatakan,”jadi kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami”.

Sungguh ucapan ini sangat mengagumkan dan mengekspresikan keteguhan, keimanan, pemahaman dan keyakinan yang ada dalam hati. Sehingga wajar saja bila ucapan-ucapan yang mengagumkan seperti ini juga keluar dari mulut murid tunggalnya Ismail AS, seperti diawal tadi. Jadi memang pendidik merupakan faktor terpenting bagi keberhasilan sang anak, tetapi ironisnya banyak dari pendidik sekarang justru tidak bisa menempatkan diri mereka pada posisi keteladanan, seringkali perbuatan mereka kontradiktif dengan ucapan-ucapannya, akhlaq mereka sangat memprihatinkan, dan komitmennya terhadap agama juga sangat kurang sehingga mana mungkin mereka yang kondisinya seperti ini bisa mencetak murid-murid dan anak-anak didik yang shalih dan berkepribadian Islami.

Yang ke empat : Kecerdasan anak dan kemampuan intelektualnya

Faktor terakhir yang juga sangat penting adalah kecerdasan dan kemampuan anak untuk menyerap pelajaran dan mengaplikasikanya dalam kehidupan sehari-hari. Dan faktor kecerdasan ini seakan terlihat sangat jelas pada diri Ismail dari jawabannya kepada sang ayah,

Wahai ayahku! kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engaku akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Dimana indikasi-indikasi kecerdasan pada anak terlihat jelas dari jawabannya ini, sebagaimana penuturan orang-orang bijak bahwa indikasi pertama kecerdasan anak adalah rasa malu dan puncaknya adalah kesabaran. Jadi, ketika anak itu masih kecil tetapi memiliki rasa malu untuk melakukan hal-hal yang idak seharusnya untuk dilakukan di tempat umum, maka hal itu mengindikasikan kecerdasannya, lebih-lebih lagi apabila ia bila bersabar dalam menghadapi keprihatinan hidup yang dialami oleh orang tuanya dan segala hal yang seringkali menimpa anak-anak seusianya.

wallahu a’lam



19 komentar:

  1. Semoga saja di Indonesia masih banyak Keluarga teladan dan guru teladan ya?
    Kadang saya melihat, orangtua yang ga kasih contoh baik pada anaknya, misal mengabaikan sholat, merokok depan anaknya, sibuk main HP sendiri sementara si anak dibiarkan main sendiri...(ini contoh nyata loh!)
    Sementara Guru, sekarang beberapa banyak yang komersil dan ada yang suka berkata kasar ke murid. Duh...jadi rindu Umar Bakrie...

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama mbak Popi, msh adakah guru sekarnag setipe Oemar Bakrie ?

      Hapus
    2. umar bakrie masih banyak di pedesaan. yang dibayar 100 ribu untuk mengajar dengan menendarai sampan dan berangkat dari rumah pagi-pagi buta? adaa sekarang mereka. dan pemerintah, nggak tau berbentuk apa perhatiannya.

      Hapus
    3. smoga saja demikian mbak pop, saya sendiri juga terlahir dari keluarga guru bahkan sampai sekarangpun saudara2 kandung saya guru semua, istri juga guru mbak.kalo umar bakrie itu hampir sama yg dulu dilakuin oleh bapakku cz ketika mengajar naik GL ( genjot langsung ) alis sepeda onthel. sampai sekarang sepadanya masih bwt kenag-kenangan

      Hapus
    4. masih ada cuman kita nya saja yang belum tahu keberadaannya mbak

      Hapus
    5. betul sekali mas zach di daerah daerah yang terpencil masih ada guru guru yang setipe umar bakrie..

      Hapus
    6. itu yang the real pahlawan tanpa tanda jasa

      Hapus
  2. Terimakasih sharingnya Pak. Membutuhkan banyak faktor ya Pak dalam mengajarkan hal-hal baik kepada anak dan generasi penerus..

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul sekali mas Rachmat, banyak faktor untuk menuju kepada tujuan yang mulia ini, semoga Allah memberi kekuatan pada kita terutama para ortu dalam membina anak-anaknya

      Hapus
  3. Insya Allah masih ada teladan selama dunia belum berakhir :)

    BalasHapus
  4. kecerdasan anak terindikasi pada sifat malu dan sabar,dan ini bermula dari orang tuanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul sekali bu min pern ortu sangat dihandalkan dalam hal ini

      Hapus
  5. Terima kasih untuk pengingat yang indah dan penting ini, semoga saya bisa menjadi orang tua yang selamat dan menyelamatkan keturunan saya. Amin.

    BalasHapus
  6. saatx gw hruz bilang woww neeh.

    http://baguspost.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. silahkan mas bagus tapi jangan sambil koprol ya..

      Hapus
  7. Malu banget saya... karena membaca dan mengingat kisah2 Ibrahim ini cuma saat seputaran bulan Zulhijjah :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. masih lumayan mbak meski setahun sekali di bulan zulhijjah, smoga saja kedepan kita bisa menerapkan kisah teladan dari keluarga teladan ini

      Hapus

 ZAITUN ( Zaman Akhir Ini Untuk Ngaji )   Salah satu fenomena yang cukup memprihatinkan pada zaman kita saat ini adalah rendahnya semangat d...